Aku bangga memilikinya….
Dia tampak begitu gagah dengan baju koko biru favoritnya dipadu sarung merah khas Samarinda. Kepalanya tertutup kopiah motif warna hitam. Bulan mulai tidak sabar mengintai hari, tanda mentari harus berhenti sejenak menghangatkan bumi. waktunya pria ini beranjak ke masjid dekat rumah. Hanya sebagai jamaah, karena dirinya merasa belum pantas menjadi imam di masjid itu. Setelah seharian berkutat dengan angka-angka yang melelahkan di meja kerjanya.
Dialah pria yang sanggup merebut hatiku, dan mengisinya setelah beberapa nama. Tentunya setelah Alloh dan RasulNya. Setiap kupandang wajahnya, dihatiku hanya ada cinta, cinta dan cinta…. kata banyak orang wajahku mirip dengannya, bentuk mata, rahang dan hidung. Tapi aku tak merasa, karena dia jauuuuh lebih tampan dari yang disangka.
Dia pria istimewa, ia dulu anak pegawai garam yang harus banyak berjuang demi hidupnya. Hingga dewasapun harus berjuang pula demi menghidupi keluarganya. Dengan perjuangan itu, dia mewarisiku harta yang tak ternilai mahalnya. Dia membuktikan selama lebih dari 25 tahun setia dan bertanggung jawab kepada kami. Menafkahi kami dengan hati-hati. Maksudnya dia harus berjuang setapak demi setapak untuk memperoleh posisi. Karena kehati-hatiannya itu membuat dirinya tidak pernah mencapai level tinggi. Cukup pegawai rendahan dari pertama berkarier hingga harus pensiun dini.
Dirinya tak pernah berebut kursi empuk dan basah seperti orang-orang lainnya. Baginya harta halal adalah segalanya. Dia mau lurus sementara lainnya mulai rakus. Dengan begitu, levelnya pun tak pernah naik, meski tiap kali pulang paling belakang. Kejujuran dan ketelitiannya diandalkan semua orang, namun gajinya tidak setara dengan kerja dan tanpa fasilitas apa-apa. Ia sungguh gagah bukan?
Ia telah mewariskan padaku sebuah sikap yang dengan itu aku bisa dengan tegar menatap dunia hingga menembus dinding akhirat. Dialah yang memenangkan rasa kagumku pada seluruh sosok pria di dunia.
Dialah bapakku, dengan warisannya aku bisa menjadi pemberani meski hanya berjalan sendiri. Tak takut cibiran, hujatan bahkan hujaman musuh.
Aku bersyukur, sungguh tidak ada yang lebih indah dari memiliki ayah yang jujur dalam mencari nafkah dan tidak juga kufur. Yang ditakuti hanyalah Alloh SWT. Aku yakin ada karpet surga yang menyambut ayahku. Alloh mencintai orang jujur, aku yakin Alloh mencintai Ayahku……
*menyiasati kerinduan pada buya tercinta, Bambang Setyono (alm)