Sabtu, 18 September 2010

Aku bangga memilikinya….
Dia tampak begitu gagah dengan baju koko biru favoritnya dipadu sarung merah khas Samarinda. Kepalanya tertutup kopiah motif warna hitam. Bulan mulai tidak sabar mengintai hari, tanda mentari harus berhenti sejenak menghangatkan bumi. waktunya pria ini beranjak ke masjid dekat rumah. Hanya sebagai jamaah, karena dirinya merasa belum pantas menjadi imam di masjid itu. Setelah seharian berkutat dengan angka-angka yang melelahkan di meja kerjanya.
Dialah pria yang sanggup merebut hatiku, dan mengisinya setelah beberapa nama. Tentunya setelah Alloh dan RasulNya. Setiap kupandang wajahnya, dihatiku hanya ada cinta, cinta dan cinta…. kata banyak orang wajahku mirip dengannya, bentuk mata, rahang dan hidung. Tapi aku tak merasa, karena dia jauuuuh lebih tampan dari yang disangka.
Dia pria istimewa, ia dulu anak pegawai garam yang harus banyak berjuang demi hidupnya. Hingga dewasapun harus berjuang pula demi menghidupi keluarganya. Dengan perjuangan itu, dia mewarisiku harta yang tak ternilai mahalnya. Dia membuktikan selama lebih dari 25 tahun setia dan bertanggung jawab kepada kami. Menafkahi kami dengan hati-hati. Maksudnya dia harus berjuang setapak demi setapak untuk memperoleh posisi. Karena kehati-hatiannya itu membuat dirinya tidak pernah mencapai level tinggi. Cukup pegawai rendahan dari pertama berkarier hingga harus pensiun dini.
Dirinya tak pernah berebut kursi empuk dan basah seperti orang-orang lainnya. Baginya harta halal adalah segalanya. Dia mau lurus sementara lainnya mulai rakus. Dengan begitu, levelnya pun tak pernah naik, meski tiap kali pulang paling belakang. Kejujuran dan ketelitiannya diandalkan semua orang, namun gajinya tidak setara dengan kerja dan tanpa fasilitas apa-apa. Ia sungguh gagah bukan?
Ia telah mewariskan padaku sebuah sikap yang dengan itu aku bisa dengan tegar menatap dunia hingga menembus dinding akhirat. Dialah yang memenangkan rasa kagumku pada seluruh sosok pria di dunia.
Dialah bapakku, dengan warisannya aku bisa menjadi pemberani meski hanya berjalan sendiri. Tak takut cibiran, hujatan bahkan hujaman musuh.
Aku bersyukur, sungguh tidak ada yang lebih indah dari memiliki ayah yang jujur dalam mencari nafkah dan tidak juga kufur. Yang ditakuti hanyalah Alloh SWT. Aku yakin ada karpet surga yang menyambut ayahku. Alloh mencintai orang jujur, aku yakin Alloh mencintai Ayahku……
                                                                                                                                                          
*menyiasati kerinduan pada buya tercinta, Bambang Setyono (alm)

HARMONI SANG PENCERAH
Keriuhan tiba-tiba menyapa pada hati masing-masing dari kami. Koor mars itu menyentakkan dan melayangkan kami pada memori 3 juli. Dalam bus Malang-Jogja dengan semangat berapi-api ingin mengawal muktamar perkumpulan yang kami cintai. Tak mengapa berpeluh penuh dan berjejal dalam bis dengan jarak lumayan jauh, yang diingini hanyalah menyemarakkan hari jadi. Ke Jogja kami kembali, dengan gerak melintas zaman, kami berupaya memajukan peradaban.
Dalam gedung itu kami hanya terdiam dan sesekali menghela napas. Bukan menjadi saksi sejarah, hanya pengumpul kertas sobekan yang berserakan, dan sudah sepantasnya didokumentasikan. Dan sekali lagi hanya menjadi penikmat, pelihat dan pembaca kisah luar biasa seorang anak manusia. Pengagum perjuangan kakek kakek kami yang oleh Tuhan dihadiahi keberanian tinggi.
Sang Pencerah benar-benar menghasilkan pencerahan. Terutama pencerahan tujuan hidup dari masing-masing kami. Sudahkah kita bermanfaat untuk orang di luar kita? apa saja yang telah kita lakukan untuk umat manusia? Apakah hanya otak kita yang bekerja dengan berbagai pola, namun raga kita terdiam tanpa bergerak melakukan perubahan? Jika saja dengan duduk bersemedi sudah bisa membuka pintu gua, tentu sebutan pahlawan bukan lagi sanjungan dan penghargaan.
Harmoni mars itu kembali menyadarkan kami, para angkatan mudanya yang sudah waktunya diserahi guliran tonggak pencerah. Menerima amanat untuk membimbing umat, dengan uluran tangan dan langkah pasti kaki kami. Bukan lagi lapisan mimpi tinggi diantara empuknya gerumbulan awan, yang hanya bisa melenakan. Kami harus benar-benar berbuat, berbuat untuk umat. Hanung saja sanggup mencipta dakwah modern, Lukman Sardipun berandil watak membentuk karakter kyai yang kami kagumi. Lalu kami mestinya memiliki porsi lebih tinggi untuk hal ini.
Dalam harmoni mars itu, kami meninggalkan gedung dengan semangat membusung. Memunculkan gumpalan cinta yang berkondensi membentuk hati ukuran besar bertulis UMAT…
Yup, kami siap menjadi para pencerah selanjutnya, berguru pada KH Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, Dirjo, AR Fachruddin, Suja, Hisyam, dan Sangidu. Atas keberanian mereka, keikhlasan mereka, keilmuan mereka, kepekaan mereka, kepedulian mereka dan tentu saja kecintaan mereka….
Beranjak dari gedung kami bersenandung……..                                                  
Sang Surya telah bersinar / syahadat dua melingkar / warna yang hijau berseri/ membuatku rela hati// Ya Allah Tuhan Rabbiku/ Muhammad junjunganku/ Al Islam agamaku/ Muhammadiyah gerakanku// di timur fajar cerah gemerlapan/ mengusik kabut  hitam/ menggugah para muslimin tinggalkan peraduan// lihatlah matahari telah tinggi/ di ufuk timur sana/ seruan Illahi Rabbi/ sami’naa wa ‘atho’naa…
                                                                                    

Oleh-oleh kami dari rekreasi hati bersama ranting nasyiatul aisyiyah gadang dengan remas al falah.