HARMONI SANG PENCERAH
Keriuhan tiba-tiba menyapa pada hati masing-masing dari kami. Koor mars itu menyentakkan dan melayangkan kami pada memori 3 juli. Dalam bus Malang-Jogja dengan semangat berapi-api ingin mengawal muktamar perkumpulan yang kami cintai. Tak mengapa berpeluh penuh dan berjejal dalam bis dengan jarak lumayan jauh, yang diingini hanyalah menyemarakkan hari jadi. Ke Jogja kami kembali, dengan gerak melintas zaman, kami berupaya memajukan peradaban.
Dalam gedung itu kami hanya terdiam dan sesekali menghela napas. Bukan menjadi saksi sejarah, hanya pengumpul kertas sobekan yang berserakan, dan sudah sepantasnya didokumentasikan. Dan sekali lagi hanya menjadi penikmat, pelihat dan pembaca kisah luar biasa seorang anak manusia. Pengagum perjuangan kakek kakek kami yang oleh Tuhan dihadiahi keberanian tinggi.
Sang Pencerah benar-benar menghasilkan pencerahan. Terutama pencerahan tujuan hidup dari masing-masing kami. Sudahkah kita bermanfaat untuk orang di luar kita? apa saja yang telah kita lakukan untuk umat manusia? Apakah hanya otak kita yang bekerja dengan berbagai pola, namun raga kita terdiam tanpa bergerak melakukan perubahan? Jika saja dengan duduk bersemedi sudah bisa membuka pintu gua, tentu sebutan pahlawan bukan lagi sanjungan dan penghargaan.
Harmoni mars itu kembali menyadarkan kami, para angkatan mudanya yang sudah waktunya diserahi guliran tonggak pencerah. Menerima amanat untuk membimbing umat, dengan uluran tangan dan langkah pasti kaki kami. Bukan lagi lapisan mimpi tinggi diantara empuknya gerumbulan awan, yang hanya bisa melenakan. Kami harus benar-benar berbuat, berbuat untuk umat. Hanung saja sanggup mencipta dakwah modern, Lukman Sardipun berandil watak membentuk karakter kyai yang kami kagumi. Lalu kami mestinya memiliki porsi lebih tinggi untuk hal ini.
Dalam harmoni mars itu, kami meninggalkan gedung dengan semangat membusung. Memunculkan gumpalan cinta yang berkondensi membentuk hati ukuran besar bertulis UMAT…
Yup, kami siap menjadi para pencerah selanjutnya, berguru pada KH Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, Dirjo, AR Fachruddin, Suja, Hisyam, dan Sangidu. Atas keberanian mereka, keikhlasan mereka, keilmuan mereka, kepekaan mereka, kepedulian mereka dan tentu saja kecintaan mereka….
Beranjak dari gedung kami bersenandung……..
Sang Surya telah bersinar / syahadat dua melingkar / warna yang hijau berseri/ membuatku rela hati// Ya Allah Tuhan Rabbiku/ Muhammad junjunganku/ Al Islam agamaku/ Muhammadiyah gerakanku// di timur fajar cerah gemerlapan/ mengusik kabut hitam/ menggugah para muslimin tinggalkan peraduan// lihatlah matahari telah tinggi/ di ufuk timur sana/ seruan Illahi Rabbi/ sami’naa wa ‘atho’naa…
Oleh-oleh kami dari rekreasi hati bersama ranting nasyiatul aisyiyah gadang dengan remas al falah.
subhanalloh,
BalasHapuskalimat semangat.
http://www.imronmahmudi.blogspot.com